• SMP NEGERI 7 CILEGON

  • Prestasi di masa kini, sebagai bekal masa depan.
blog-img
28/07/2026

The King Of Banten Hydroulic Irigation

Admin | Pendidikan

SULTAN AGENG TIRTAYASA

The King Of  Banten Hydroulic Irigation

Oleh: Syamsuri, S.Pd. M.Pd (syamsurihani_clg@yahoo.com)

 

Pendahuluan

           Kerajaan Banten merupakan kerajaan Islam yang berada dipesisir pantai utara pulau Jawa. Letaknya diujung barat pulau Jawa.  Kerajaan Banten adalah salah satu kerajaan Islam yang pada awal mulanya berada di bawah kekuasaan Kerajaan Demak. Namun kemudian, Banten melepaskan diri saat Kerajaan Demak mundur dan pemimpin pertama Kerajaan Banten adalah Sultan Hasanuddin yang memiliki periode pemerintahan dari tahun 1522 sampai dengan 1570. Sultan Hasanuddin lalu membuat Banten menjadi pusat perdagangan dan memperluas wilayahnya hingga Lampung sebagai penghasil lada di wilayah Sumatera Selatan. Zaman kejayaan Banten tidak lepas dari peran sang raja Banten yang bernama Sultan Ageng Tirtayasa yang memerintah pada tahun  1651 – 1682.  Beliau lahir di Banten pada tahun 1631. Sejak kecil beliau memiliki banyak nama, namun nama kecil Sultan Ageng Tirtayasa adalah Abdul Fatah atau Abu al-Fath Abdulfattah. Ayahnya bernama Sultan Abu al-Ma’ali Ahmad yang merupakan sultan Banten dan ibunya bernama Ratu Martakusuma.

     Sewaktu naik tahta menjadi Sultan Banten, beliau masih sangat muda. Beliau dikenal sangat menaruh perhatian terhadap perkembangan agama Islam di daerahnya. Ia mendatangkan banyak guru agama Islam dari Arab, Aceh dan daerah lain untuk membina mental para pasukan Kesultanan Banten. Sultan Ageng Tirtayasa juga dikenal sebagai ahli strategi dalam perang. Di bawah kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa pula kesultanan Banten mencapai puncak kejayaan dan kemegahannya.(M.Subagyo, 2012;33).   Beliau juga konsen  memajukan sistem pertanian dengan  membangun irigasi hidrolik yang sangat modern pada zamannya. Beliau  juga berhasil menyusun armada perang yang sangat handal. Satu hal yang penting mengapa Kesultanan Banten ketika itu mencapai puncak kejayaannya adalah hubungan diplomatik yang kuat antara kesultanan Banten dengan kerajaan lainnya di Indonesia seperti Makassar, Cirebon, Indrapura dan Bangka.

Kerajaan Banten dan Lada

            Kerajaan Banten menjadi pemasok lada terbesar kedua setelah Aceh untuk wilayah Asia Tenggara. Hal ini sudah berlangsung sejak pemerintahan sebelum Sultan Ageng Tirtayasa memerintah, Kerajaan Banten tampil sebagai kerajaan yang menerapkan monokultur lada sebagai keunggulan absolut kerajaan sehingga kerajaan Banten tampil menjadi kerajaan penghasil lada yang banyak diminati oleh pedagang dari luar, (Kurnia Anwar, 2002:88).  Namun disisi lain sektor pangan kurang dapat perhatian sehingga Banten pernah mengalami krisis pangan karena tidak seimbangnya kebutuhan bahan makanan pokok dengan jumlah penduduk yang saat itu berjumlah sekitar 150.000 jiwa. Kerajaan Banten yang saat itu menjadi kerajaan yang mengandalkan lada sebagai perekonomian andalan kerajaan. Ketergantungan pada ekonomi lada ternyata eqivalen dengan ketergantungan penduduk pada importasi beras dari pelabuhan-pelabuhan pesisir utara Jawa Tengah, padahal sampai pada akhir abad XV, Banten dikenal oleh para pedagang Portugis sebagai salah satu pelabuhan yang mengekspor beras dan bahan pangan lain. Kondisi ini lah yang disebut oleh Dr. Claude Guillot bahwa Banten saat itu disebutnya sebagai La Guerre Civile (perang sipil) karena politik Banten yang hanya terfokus pada monokultur lada sementara kebutuhan pangan kurang mendapat perhatian. Ketika eksportasi lada stabil di pasaran dunia, beras di impor, tetapi manakala terjadi gangguan (blokade laut) oleh kekuatan ekonomi Belanda (VOC) di jalur perdagangan perdagangan maritim eksportasi ladapun terhenti dan ketidakseimbangan moneterpun mengancam stabilitas ekonomi. Pada periode itu Banten pernah mengalami apa yang disebut “ krisis pangan” karena produksi padi terbatas sementara penduduk semakin banyak. Dalam situasi sulit itu banyak bermunculan tokoh penyelemat dengan berbagai kebijakannya, tetapi diantara mereka tokoh yang patut dikenang adalah Sultan Ageng Tirtayasa raja yang pernah membangun irigasi modern pada zamannya untuk membangkitkan kembali sektor pertanian di Kerajaan Banten.  

Sultan Ageng Tirtayasa Anti VOC

       Pada masa pemerintahan Abdul Mafakir (sultan Banten ke IV 1596-1651)  pelaut Belanda Cornelis De Houtman  berlabuh dipelabuhan Banten tepatnya pada tanggal 22 Juni 1596. Kedatangan Cornelis De Houtman pada tahun 1596 awalnya diterima oleh rakyat Banten, namun karena tindakan sewenang wenang Cornelis de Houtman, maka ia diusir oleh rakyat Banten dan Cornelis De Houtman kembali ke Belanda dengan membawa rempah rempah.

        Rempah rempah yang di bawa Cornelis De Houtman telah mendorong para penjelajah Belanda untuk datang ke kepulauan Nusantara.  Kalau kita melihat history tentang penjelajahan samudera kita ketahui bersama bahwa kolonialisme dan imprealisme bangsa Eropa di Indonesia, diawali dari penjelajahan samudera dan pelayaran bangsa-bangsa Eropa ke Nusantara, sebagai akibat dari jatuhnya kota Konstantinopel (Byzantium) ke tangan Turki Usmani pada 1453 sebagai akibat Perang Salib (1096-1291). Sehingga memaksa bangsa Eropa harus berusaha keras, mencari sumber dan jalur perdagangan baru, selain melalui perdagangan laut tengah. Kegiatan penjelajahan samudera yang dipelopori oleh Portugis dan Spanyol, kemudian disusul oleh Belanda yang pada awalnya membeli komoditas rempah-rempah dari portugis di Lisabon. Namun setelah Lisabon dikuasi Spanyol, Belanda harus mencari daerah asal komoditas tersebut. Adalah Cornelis de Houtman yang menandai Bangsa Belanda pertama kali mendarat di Nusantara tepatnya dipelabuhan Banten pada 1596, yang kemudian karena berperilaku tidak baik dengan masyarakat pribumi dan pedagang lainya, akhirnya Cornelis de Houtman diusir dan kembali ke Negeri Belanda. Barulah pelayaran berikutnya pada 21 Juni 1599, Armada dagang yang dipimpin Cornelis de Houtman bersaudara kembali ke Nusantara melalui pelabuhan Aceh.

        Berselang tiga  tahun setelah kedatangan kedua Cornelis De Houtman ke Nusantara, Belanda kemudian membentuk VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) pada tahun 1602. VOC yang awalnya dibentuk sebagai wadah untuk para pedagang Belanda yang ada di Nusantara, namun walaupun demikian,  ternyata VOC diberikan beberapa hak Istimewa yaitu hak memonopoli perdagangan, hak membuat uang sendiri, hak memiliki tentara sendiri, hak mencetak uang sendiri, hak membuat perjanjian dengan para raja di Nusantara, hak menyatakan perang, hak mengadakan pemerintahan sendiri.  Oleh karena itu berdirinya VOC menandakan penjajahan Belanda atas Nusantara telah dimulai.  Hak hak istimewa (hak Oktroi) yang  dimilikanya, menyebabkan VOC memiliki kekuasaan yang luas atas daerah yang ditaklukkannya di Nusantara, (Supriatna nana, 2017:128) Monopoli perdagangan VOC menyebabkan jaringan perdagangan rempah rempah dari maluku ke malaka dikuasai VOC sehingga menyebabkan jaringan para pedagang Nusantara semakin sempit dan tidak mampu bersaing dengan pedagang Belanda. Monopoli pergadangan oleh VOC ini mengakibatkan jalur perdagangan wilayah Banten juga tergangu.

     Sebelum Sultan Ageng Tirtayasa naik tahta, berturut turut kerajaan Banten diperintah oleh, Sultan Hasanudin (1552-1570), Sultan Maulana Yusuf (1570-1580), Sultan Maulana Muhammad (1580-1596), Sultan Abdul Mafakhir Mahmud Abdul Kadir (1596-1651).  Sultan Ageng Tirtayasa lahir di Banten pada tahun 1631. Sultan Ageng Tirtayasa masih memiliki darah keturunan Sunan Gunung Jati dari Cirebon melalui anaknya Sultan Maulana Hasanuddin.  Sejak kecil sebelum diberi gelar Sultan Ageng Tirtayasa, Abdul Fatah diberi gelar Pangeran Surya. Beliau diangkat sebagai Sultan Muda dengan gelar Pangeran Dipati ketika ayahnya Sultan Abu al-Ma’ali Ahmad wafat. Abdul Fatah atau pangeran Dipati merupakan pewaris tahta kesultanan Banten. Namun saat ayahnya wafat, sultan Ageng Tirtayasa  belum  menjadi sultan,  sebab kesultanan Banten ketika itu kembali dipimpin oleh kakeknya Sultan Abul Mufakhir Mahmud Abdul Qadir beliau sangat anti penjajah VOC. Ketika kakeknya Sultan Abul Mufakhir Mahmud Abdul Qadir wafat di tahun 1651, Abdul Fatah atau pangeran Dipati kemudian naik tahta sebagai Sultan Banten ke 5 dengan nama Sultan Abul Fath Abdul Fattah atau Sultan Ageng Tirtayasa yang memerintah pada tahun (1651-1692). Pada masa pemerintahan sultan ageng Tirtayasa banyak bangsa Belanda yang mulai menduduki beberapa kawasan di kawasan Batavia, hal ini membuat resah sultan, karena kedatangan mereka bukan sebagai teman atau rekan, mereka mempunyai agenda tersendiri yaitu kolonialisasi. Untuk itu sultan memperkuat pasukannya yang berada di Tangerang sebagai benteng pertahanan terdepan. Di sini pula pasukan melancarkan serangan yang terjadi pada tahun 1652. Taktik serangan yang dilancarkan adalah taktik perang gerilya. Taktik ini berhasil menyulitkan pihak kolonial Belanda hingga akhirnya mereka terdesak.

     Sebagaimana sang kakek, Sultan Ageng Tirtayasa pun sangat anti penjajah VOC. Ia benar benar menunjukkan kekuatannya bahwa  Banten tidak akan takluk pada kekuatan Belanda dan VOC. Berbagai taktik licik yang diupayakan Belanda untuk meruntuhkan Kerajaan Banten  tak juga berhasil. Bahkan Belanda sampai kewalahan dan akhirnya harus mengakui kekuatan kerajaan  Banten dibawah kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa yaitu dengan mengusulkan gencatan senjata dan perdamaian, namun ditolak oleh Sultan Ageng Tirtayasa. 

     Sejak saat itu, sultan sadar bahwa perseteruan dengan Belanda (VOC tidak akan pernah ada titik temu. Oleh karena itu sultan Ageng bertekad mengusir bangsa Belanda dari bumi nusantara,oleh karena itu pada tahun 1656 sultan memerintahkan pasukan yang bermarkas di Angke dan tangerang untuk melakukan gerilya, (Kisdiantoro, 2016;40) kegiatan gerilya ini dilakukan secara besar besaran terhadap berbagai fasilitas milik kompeni Belanda. Hal ini disadari oleh sultan akan berdampak pada serangan balik dari pihak Belanda dengan serangan balik yang sangat dahsyat. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi serang Belanda, Sultan Ageng Tirtayasa berusaha memperbaiki hubungan antara Cirebon  dengan  Mataram yang sempat bersitegang. Apa yang dilakukan Sultan bukan hanya mendapat dukungan dari rakyat dan seluruh pengikutnya, namun juga dari pihak asing yang tidak suka dengan kekuasaan Belanda. Sultan memerintahkan seluruh kawasan yang berada dibawah kekuasaan Banten untuk mengirimkan bala tentara nya. Pasukan tersebut banyak berdatangan dari lampung, Solebar, Indragiri dan daerah lainnya untuk bergabung dengan pasukan sultan yang bermarkas di Surosowan. 

     Melihat kesiapan Sultan pihak Belanda pun tidak mau kalah, merekapun turut memperkuat pertahanannya dengan mendatangkan prajurit prajurit bayaran. Antara Banten dan Belanda betul betul saling unjuk kekuatannya masing masing. Pada tanggal 29 April 1658 Belanda mengirimkan utusan ke Banten dengan membawa surat perjanjian damai, namun isi perjanjian tersebut sangat menguntungkan pihak Belanda. Pada tanggal 4 Mei 1658 Sultan mengirimkan utusannya ke pihak Belanda agar perjanjian tersebut direvisi, namun perjanjian ini tidak ada titik temu. Sampai akhirnya pada bulan Juli 1658 sampai tangal 10 Juli 1659 terjadilah pertempuran dahsyat antara pasukan kerajaan Banten dengan Belanda .

     Untuk memudahkan komunikasi antara Sultan dengan para pasukan, maka dibangunlah kampung prajurit di kawasan utara banten (sekarang nama daerahnya pontang Tirtayasa)  bahkan disana dibangun juga istana yang berfungsi juga sebagai pusat kontrol dan peristirahatan sultan saat berkunjung ke sana. Selain itu  Sultan pun  membangun jalan darat dan Jalur laut untuk memudahkan transportasi yang menghubungkan tiga daerah kekuasaan yaitu  Surosowan – Pontang – Tangerang. Dibuat juga beberapa saluran  alternatif  melalui sungai Cikande yang dapat dilalui kapal perang berukuran sedang.

             Dalam upaya menghentikan dominasi VOC dalam perdagangan, Sultan Ageng Tirtayasa menerapkan perdagangan bebas hal ini ternyata berhasil menarik para pedagang dari Inggris, Perancis, Denmark dan Portugis yang merupakan pesaing berat VOC. Strategi perdagangan bebas ini bukan saja mampu mengembalikan dan memulihkan perdagangan Banten, namun juga mampu memecah konflik politik menjadi persaingan perdagagangan antar bangsa Eropa.  Sultan Ageng sangat gigih dalam melawan VOC, beliau sangat disegani oleh para pembesar VOC di Batavia karena kecerdasan, keteladan, dan keberaniannya. 

     Sebagai seorang pemimpin Sultan Ageng Tirtayasa dikenal sebagai orang yang cerdas, visioner, berpikiran luas, sholeh, bijaksana, selalu mementingkan kepentingan rakyat diatas kepentingan pribadi, gigih dalam menentang keberadaan VOC Belanda olah karena atas jasa jasa dan  kegigihannya dalam mengusir penjajah Belanda  beliau mendapat gelar pahlawan dari pemerintah Republik Indonesia yang tertuang dalam SK Presiden RI No 045/TK/tahun 1970, tgl 1 Agustus 1970. Tentang penganugrahan gelar pahlawan Nasional Kepada Sultan Ageng Tirtayasa.

Sultan Ageng Tirtayasa dan Irigasi Hidrolik

     Sejarah irigasi di Banten berawal dari kisah Sultan Abdul Fathi Abdul Fattah menyingkir dari Surosowan (sekarang Banten Lama) dan memilih sebuah dusun di pantai utara Banten untuk membangun istana barunya di daerah rawa-rawa yang kemudian daerah tersebut diubah menjadi ‘kota air’ dengan membangun teknologi hidrolik untuk mengembangkan ekonomi berbasis pertanian dan perkebunan. Karena keahliannya dalam membangun sistem pengairan, sultan mendapat gelar Sultan Ageng Tirtayasa. Tirta artinya air, yasa artinya membangun. Sultan Ageng memodifikasi lingkungan dengan membuat sodetan dari sumber air induk sungai dan rawa-rawa serta membangun kanal-kanal untuk menyalurkan air dan membuat bangunan pengairan (bendungan dan pintu air) untuk mengendalikan, menaikkan, serta memindahkan aliran air. Dengan modifikasi tersebut, air dapat dimanfaatkan saat musim hujan atau ketika kemarau.

         Selama hampir 14 tahun (1663-1677) Sultan Ageng membangun sistem irigasi besar-besaran di Banten(Merie Calvin dan Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern, 2008). Sekitar 16.000 pekerja dilibatkan untuk membangun kanal besar sepanjang 40 KM. Di sepanjang kanal tersebut, sultan membuka 30.000 – 40.000 hektar sawah dan ribuan hektar kebun kelapa. Kanal irigasi itu dibangun di lembah Sungai Ciujung dan Cidurian serta lembah Sungai Cimanceuri. Bukti peninggalan berkaitan dengan irigasi di Cimanceuri berujung di daerah Balaraja. Peninggalan itu berupa tiga pintu air yang salurannya bersumber dari Sungai Cimanceuri dan Rawa Rancailat. Sedangkan peninggalan yang berada diantara Sungai Cidurian dan Ciujung berupa pintu air yang menjadi penanda adanya sodetan untuk mengalirkan air dengan dua kanal buatan.

         Kanal pertama dikenal sebagai kanal sultan sepanjang 9 KM. Sampai sekarang kanal buatan sultan ini masih dapat dilihat dan dimanfaatkan untuk pengairan. Selain itu, ditemukan pula dua pintu air, saluran kontrol bawah tanah, dan pintu air berbentuk jembatan di sepanjang kanal tersebut. Kanal kedua disebut saluran Jongjing yang panjangnya 9 KM menuju ke arah Kampung Sujung. Di sepanjang kanal itu terdapat lima bendungan yang dilengkapi dengan dua pintu air. Namun, hanya tiga bangunan yang masih dapat dilihat hingga sekarang, yaitu di Kampung Endol, Cerucuk, dan Sujung.Kanal sultan menyadap air kali Cidurian ke arah kiri untuk mengairi dataran rendah tanara. Di samping kanal sultan terdapat beberapa jaringan-jaringan irigasi kecil yang menyadap air dari kali-kali kecil seperti Cibongor, Cicauk Cisaid, Ciwaka dan Cipare. Luas daerah yang dapat dilayani oleh irigasi-irigasi kecil ini hanya sebagian kecil saja dari areal persawahan yang ada pada saat itu, selebihnya masih berupa lahan persawahan tadah hujan.

          Sultan Ageng Tirtayasa tidak hanya menjadikan  Kerajaan Banten sebagai kerajaan yang kuat secara politik dan perdagangan tetapi juga beliau menjadikan Kerajaan Banten  sangat tangguh dalam ketahanan pangan. Di masa pemerintahannya Banten mampu menunjukkan bahwa Banten memiliki irigasi hidrolik yang sangat modern saat itu. Dengan sistem Irigasi hidrolik yang dibangun oleh sultan Ageng Tirtayasa menjadikian Banten mampu meningkatkan produksi padi sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Banten dan mampu mencukupi kebutuhan padi untuk rakyat Banten pada saat itu.

 

Simpulan

     Sejarah Sultan Ageng Tirtayasa  sebagai seorang Raja Banten yang disegani oleh rakyatnya dan ditakuti oleh pembesar pembesar VOC  merupakan salah satu potensi sejarah dari Banten , yang dapat diangkat dalam rangka penguatan nilai-nilai kebangsaan melalui pembelajaran sejarah. Melalui potensi nilai-nilai sejarah terutama sejarah lokal suatu daerah, sejatinya pemupukan Nasionalisme Indonesia menjadi sangat  strategis. Karena melalui nasionalisme akan timbul kesadaran berbangsa yang tidak terbatas individu, etnis serta agama. Kesadaran sejarah terutama sejarah lokal menjadi sangat strategis sebagai upaya pembangunan jati diri suatu bangsa, hal ini dapat dilakukan melalui kegiatan pembelajaran outing class dimana peserta didik diajak untuk mengamati situs peninggalan kerajaan Banten. Melalui kegiatan ini diharapkan akan dapat menimbulkan rasa bangga terhadap nilai nilai karakter yang ada pada diri sultan Ageng Tirtayasa untuk selanjutnya peserta didik mampu mengambil hikmah dan mencontoh nilai nilai karakter positif dari tokoh sejarah lokal  kerajaan Banten dan mampu menumbuhkan jiwa nasionalisme yang dapat menjadi benteng terakhir dalam menghalau pengaruh negatif yang akan menghancurkan kedaulatan  sebuah bangsa. Banyak nilai nilai keteladanan dari Sultan Ageng Tirtaysa yang dapat diambil oleh generasi milenial  diantaranya adalah 1) pendirian yang tangguh dalam menolak segala bentuk penjajahan ditanah Banten, 2) beliau sebagai Raja Banten yang gagah berani namun sangat memperhatikan kesejahteraan rakyat Banten hal ini dibuktikan dengan dibangunnya irigasi hidrolik oleh Sultan Ageng.  Oleh karena itulah Sultan Ageng mendapat gelar Tirtayasa. Tirta berarti air dan Yasa berarti membangun. Atau dapat di artikan membangun saluran air, atau dalam istilah milenialnya adalah The King of Banten Hydrolic Irigation

 

Daftar Rujukan

Anwar Kurnia, 2002. Sejarah 1. Yudistira, Jakarta

Kisdiantoro,dkk 2016. Ensklopedia Banten, Penerbit Bee Media Pustaka, Jakarta

M. Subagyo, 2012. Atlas Sejarah, Penerbit PT Permata Zahra, Jakarta Timur

Supriyatna Nana, 2017. IPS Imu Pengetahuan Sosial VIII, Grafindo, Bandung

Muh. Ali Fadhilah, 2004, Kebijakan Sultan Ageng Tirtayasa. Seminar Peran Alumni Perguruan Tinggi dalam pembangunan masyarakat Banten. Dies Natalis Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. (dikutip dari media Online)

https://sejarahlengkap.com/indonesia/kerajaan/sejarah-kerajaan-banten

https://www.biografiku.com/biografi-dan-profil-sultan-ageng-tirtayasa-pahlawan-nasional-dari-banten/

 

 

Bagikan Ke:

Populer