Pada pukul 07.30 WIB seluruh dewan guru beranjak menuju spot foto yang sudah ditentukan oleh bu Humas SMPN 7 Cilegon, dengan berpakai kebaya warna warni dan model kebaya yang beragam dipadukan denga rok yang serasi dengan kebaya sehingga ibu guru SMP 7 Cilegon hari ini terlihat sangat cantik dan anggun. Tidak mau kalah dengan Ibu-Ibu, Bapak guru juga terlihat gagah dan berwibawa dengan mengenakan pakaian Batik Nusantara yang warna warni modelnya. Ya, hari ini hari yang spesial, karena hari ini kami dewan guru memeriahkan hari Kebaya Nasional. Memang agak terlambat sih.. karena seharusnya kebaya itu dipakai pada tanggal 24 Juli yang ditetapkan sebagai hari Kebaya Nasional. Tapi its oke tidak mengapa terlambat, yang pasti kami bangga dengan kebaya dan Batik Nusantara.
Sebagai warisan budaya yang diturunkan oleh nenek moyang, sudah menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menjaga dan melestarikan kebaya dari masa ke masa. Penetapan Hari Kebaya Nasional setiap tanggal 24 Juli, melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2023, bukan sekadar penanggalan di kalender, melainkan pengingat tahunan agar kita tidak lupa pada akar budaya sendiri.
Secara etimologi (asal-usul bahasa), kata kebaya dipercaya berasal dari bahasa Arab, yaitu "abaya" yang berarti jubah atau pakaian panjang. Namun, ketika masuk ke Nusantara, ia bertransformasi. Ia tidak lagi sekadar penutup aurat, tetapi berkembang menjadi busana yang mencerminkan status sosial, kehalusan budi, dan keindahan estetika LOKAL. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), definisi kebaya adalah baju perempuan bagian atas, berlengan panjang, dipakai dengan kain panjang.
Pada 4 Desember 2024, kebaya resmi diakui sebagai Warisan Budaya Tak benda oleh UNESCO, melalui pengajuan bersama lima negara lainnya, Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, dan Thailand. Penetapan ini diumumkan dalam sesi ke-19 Komite Antar Pemerintah untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak benda (WBTb) di Asunción, Paraguay. Ini menjadi tonggak sejarah, mengukuhkan kebaya sebagai simbol persatuan, keanggunan, dan kekuatan perempuan Asia Tenggara.
Kebaya bukanlah sekadar busana. Ia adalah teks sejarah yang terbaca dari setiap sulamannya. Ia adalah arsitektur budaya yang dirancang oleh nenek moyang kita sejak berabad-abad silam. Dan pada hari ini, kita dipanggil untuk tidak hanya mengenakan kebaya, tetapi juga merenungi maknanya yang begitu dalam bagi identitas ke-Indonesia-an kita. Melestarikan kebaya bukan berarti kita menolak modernisasi, melainkan menyandingkan nilai tradisi dengan gaya hidup masa kini. Dengan membiasakan diri mengenal dan mengenakan kebaya di lingkungan sekolah, kita ikut memastikan bahwa warisan luhur ini tidak hanya tersimpan di museum, tetapi terus hidup di hati generasi muda.
Pelestarian kebaya di lingkungan sekolah tidak akan berjalan maksimal jika hanya menjadi gerakan satu arah. Di sinilah peran krusial sinergi antara guru dan murid diuji. Bagi para guru, mengenakan kebaya pada Hari Kebaya Nasional adalah bentuk keteladanan nyata (lead by example) untuk mengenalkan nilai estetika dan sejarah secara langsung kepada murid. Sementara bagi murid, momen ini menjadi wadah untuk mengekspresikan rasa bangga terhadap identitas bangsanya tanpa merasa terkungkung oleh kesan "kuno". Ketika guru hadir sebagai pemantik semangat dan murid menyambutnya dengan antusiasme khas generasi muda, perayaan Hari Kebaya Nasional di sekolah bertransformasi dari sekadar rutinitas tahunan menjadi ruang edukasi budaya yang hidup, relevan, dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, derap langkah para ibu guru SMPN 7 Cilegon yang anggun berbalut kebaya dan bapak guru yang gagah mengenakan batik pagi ini bukan sekadar perayaan sesaat, melainkan simfoni kecil dari komitmen besar kita dalam merawat warisan bangsa. Kebaya akan terus hidup bukan karena ia tersimpan rapi di dalam museum, melainkan karena ia terus dikenakan, dicintai, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dari ruang-ruang kelas hingga panggung dunia, mari kita terus gaungkan rasa bangga ini: bahwa dalam setiap helai kain dan sulaman kebaya, tersimpan jati diri, keanggunan, dan martabat bangsa Indonesia yang takkan pernah pudar oleh zaman.
Oleh : H.Syamsuri, S.Pd., M.Pd
Editor : Publikasi Spenju